Jumat, 15 April 2011

Gedung DPR baru = Gedung Parlemen Cile

Akhir-akhir ini polemik mengenai pembangunan gedung DPR yang baru menjadi pembasahan yang hangat di masyarakat luas. Sebagian besar dari masyarakat (termasuk saya) meyayangkan sikap anggota dewan perwakilan rakyat yang memilih untuk tetap membangun gedung dengan total biaya pembangunan sebesar Rp 1,16 triliun dihitung untuk bangunan dengan luasan 160 ribu meter persegi, dengan tapak bangunan kurang lebih 11 Ha, ketinggian bangunan 36 lantai, dan segala fasilitas mewahnya.



Setelah gedung DPR yang lama Gedung Nusantara 1 Kompleks DPR-RI, Senayan, Jakarta, mengalami kemiringan hingga 7 derajat dan merasa "tidak layak huni", membuat para wakil rakyat memutuskan untuk membangun gedung yang baru yang lebih baik dan "tidak miring" tentunya.

Hal ini masih masih menjadi permasalahan, dan semakin dipermasalahkan saat diketahui ternyata bentuk rancangan gedung DPR yang baru itu sangat mirip dengan gedung parlemen Cile! Protes dan kritik pun semakin banyak dari berbagai kalangan.
Hal ini tentu sangat memalukan karena kita sebagai negera Republik Indonesia tidak memiliki karakter tersendiri yang tercermin dalam gedung DPR yang baru, tetapi justru meniru bentuk bangunan parlemen negara lain.



Hal ini tentu saja akan memalukan bangsa kita sebagai bangsa yang suka meniru bangsa lain (sudah banyak yang terjadi). Selain itu kualitas arsitek bangsa kita juga akan dipertanyakan, karena untuk gedung perwakilan rakyat pun kita harus meniru negara lain, padahal banyak sekali bentuk arsitektural yang ada di negara ini.

Bayangkan dengan jaman dulu, tidak pernah ada 1 gedung pun yang bisa menyamai rumah-rumah adat di Indonesia yang terkenal dengan ciri khas arsitektural dan ornamen dari tiap-tiap daerah. Sedangkan ini hanya untuk sebuah gedung perwakilan rakyat, secara terang-terangan harus meniru gedung parlemen Cile!



Bukan hanya presidean dan DPR/MPR yang akan disorot dan dipermalukan tetapi juga kita sebagai bangsa dan terkhusus sebagai mahasiswa arsitektur! Hal ini sangat disayangkan karena banyak sekali bentuk-bentuk karakter bangsa yang dapat diadopsi untuk bentuk gedung DPR yang baru, bukan dengan meniru seperti itu, apalagi dengan anggaran yang terlampau besar.

Jika anggaran untuk membangun saja sudah terlampau besar dan sekarang bentuk gedungnya meniru gedung parlemen negara lain??? Makin kecewa.

Rabu, 02 Maret 2011

Kesemrawutan Kota Jakarta Karena Kesalahan Peruntukan Lahan

Kemacetan yang terjadi di Jakarta akhir-akhir ini terjadi karena kondisi kota Jakarta yang semakin padat dengan jumlah penduduk yang meningkat begitu pula dengan kebutuhan kendaraan transportasi yang meningkat serta kebutuhan sosial masyarakatnya. Hal ini menyebabkan pertambahan dan petumbuhan Jakarta sangat tidak berimbang. Dikarenakan pertambahan dan pertumbuhan penduduk Jakarta yang makin padat, maka petumbuhan kemacetan akan sejalan dengan perkembangan dan pertambahan penduduk serta aktifitasnya.



Jakarta merupakan ibukota yang memang sejak awal pertumbuhan kota serta perkembangan Indonesia menjadi titik pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi, sosial dan politik.
Selain itu, masalahan peruntukan hunian juga menjadi sumber kemacetan di Jakarta. Banyak wilayah-wilayah di Jakarta yang peruntukannya bukan untuk area komersil dan usaha, namun pada kenyataannya disalahgunakan menjadi lokasi usaha, sehingga terjadi penyimpangan landuse. Penyimpangan akibat lahan hunian menjadi komersil inilah yang akhirnya menyebabkan kemacetan di Jakarta semakin padat. Area perumahan yang ada didaerah Kemang dan Bangka, Menteng, Pondok Indah, serta Kebayoran Baru kini terlihat beralih fungsi menjadi lokasi usaha seperti kafe, restoran, galeri, dsb.

KASUS:
Tahun 1950-an, Kemang hanyalah sebuah daerah pinggiran Jakarta. Sama seperti Ragunan, Cilandak, atau Fatmawati. Kemang merupakan daerah perkebunan. Di sepanjang jalan yang ada hanyalah perpohonan yang rindang. Satu pohon yang paling banyak dijumpai di daerah ini adalah pohon Kemang (Mangifera Kemang Caecea). Orang sering menyebutnya Camang atau Kemang hingga sekarang. Suasananya pun sangat alami dan asri. Jauh dari kesan ramai.



Bila dibandingkan dengan sejarahnya, Kemang yang sekarang telah mengalami "metamoforsis". Jalan yang membentang dari Kemang Raya sampai Bangka Raya yang panjangnya sekitar 3 km, kini banyak dipenuhi cafe, resto, dan rumah makan yang menyuguhkan musik yang hinggar-bingar hingga jazz, country, atau pop. Seringkali cafe menggelar berbagai acara denganmendatangkan beberapa artis pop. Kemang menjadi salah satu tujuan gaya hidup bagi warga Jakarta dengan suguhan galeri seni, toko buku, kios, restoran-restoran dan bar. (Sumber sejarah: http://baby-naked.blog.friendster.com)
Kini, di sepanjang Jalan Raya Kemang, kurangnya penertiban bangunan membuat banyak hunian pada area Kemang, Bangka, ini berubah fungsi menjadi komersil atau tempat usaha.
Meskipun daerah tersebut merupakan daerah hunian atau tempat tinggal, namun pemilik hunian sepertinya tidak menggubris aturan yang ada dan tetap mengalihfungsikan bangunannya menjadi tempat usaha. Tidak ada sanksi tegas terhadap pelanggaran ini, oleh karena itu sepanjang Jl. Kemang Raya, Kel. Bangka selalu menjadi pusat kemacetan karena pada umumnya lokasi usaha yang dibangun dia area hunian ini memiliki wilayah parkir yang tidak luas, sehingga banyak mobil pengunjung restoran, salon, butik, dll, yang lebih memilih memarkir mobilnya di bahu jalan, dan hal tersebut sangat menganggu pengguna jalan lainnya dan menyebabkan kemacetan berkepanjangan.
Padahal jika meninjau peraturan yang ada, apabila hunian yang berubah fungsi menjadi lokasi usaha tanpa ijin yang jelas dapat dikenakan sanksi atau disegel oleh pihak berwenang. Hal ini guna ketertiban lingkungan sekitar dan lalu lintas.

RESPON:
Lemahnya penertiban dan pengawasan dari pemerintah setempat dapat menjadi kendala, penyimpangan ini tidak akan terjadi jika fungsi pengawasan dan penertiban dijalankan dengan baik.



Contoh yang paling gamblang adalah kasus Kemang diatas, Kebayoran Baru, Menteng, dan Pondok Indah. Meskipun dari aspek tata ruang, terjadinya perubahan peruntukan hunian ke kegiatan komersial adalah menyimpang, tetapi dari aspek pengembangan usaha mungkin kegiatan tersebut seratus persen legal, karena memiliki izin usaha dari instansi terkait.
Oleh karena itu hal-hal yang harus dilakukan, antara lain tentu saja pengawasan oleh aparat perlu ditingkatkan. Penertiban harus dilakukan sedini mungkin dan jangan menunggu setelah perkembangan di lapangan terlanjur jauh. Disamping itu sudah waktunya masyarakat dilibatkan secara langsung dalam pengawasan, caranya adalah dengan mengumumkan secara luas kepada masyarakat perizinan yang telah diterbitkan, baik yang menyangkut rencana kota, IMB, izin usaha dsb. Dengan demikian masyarakat dapat mengetahui peruntukan untuk setiap lokasi yang dimohon dan kalau pelaksanaan pembangunannya menyimpang dapat melaporkannya kepada yang berwenang. Sanksi tidak hanya diberikan kepada masyarakat yang melanggar tetapi juga kepada aparat.
Seandainya jika dibongkar (dikembalikan ke peruntukan sebenarnya) harus mempertimbangkan kemungkinan gejolak sosial, ekonomi dan politik. Seperti kemungkinan bertambahnya pengangguran, penolakan dari banyaknya pemilik bangunan dan usaha, kerugian-kerugian usaha, dll. Tetapi kalau tidak dibongkar, akan ada banyak konsekuensi yang harus ditanggung Pemerintah Daerah dan Pemerintah Kota.

KESIMPULAN:
Saya setuju kesemrawutan Jakarta karena kesalahan peruntukan lahan. Hal ini disebabkan oleh kurang teraturnya penataan tata ruang Jakarta sering kali menjadi penyebab berbagai masalah lain, di antaranya kemacetan dan polusi berlebihan. Peruntukan lahan yang pada awalnya telah diatur menurut peraturan daerah yang ditetapkan namun pada kenyataannya berbeda peruntukannya.



Hal inilah yang menyebabkan kesemrawutan yang sering terjadi di kota Jakarta. Sebagai contoh di kota Jakarta, perubahan peruntukan kawasan hunian menjadi kegiatan komersial seperti yang terjadi di Kemang, Menteng, Kebayoran Baru dan mulai merambah ke kawasan Pondok Indah, telah menimbulkan berbagai macam permasalahan antara lain kemacetan lalu lintas, kesemrawutan bangunan, pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan dan lain sebagainya. Lingkungan hunian yang semula asri menjadi semrawut, bising dan kumuh.
Kesalahan-kesalahan ini tidak sepenuhnya berada di tangan pemilik hunian atau lokasi usaha tersebut, namun dapat juga merupakan kesalahan pemerintah yang cenderung tidak tegas dalam memberikan sanksi kepada pemilik hunian dan usaha-usaha tersebut. Sehingga perlu adanya koreksi pada badan pemerintahan daerah yang terlalu lemah dalam menindak lanjuti masalah ini, sehingga terjadi akibat yang merugikan banyak pihak yaitu kemacetan.
Di saat ke depan tidak ada pilihan lain bahwa dalam proses peruntukan pada berbagai tingkatan harus melibatkan peran serta masyarakat secara aktif. Prosedur perizinan pun harus disederhanakan. Fungsi bangunan harus tetap menurut peruntukan yang sebenarnya dan harus ada pengawasan hukum yang tegas, agar tidak terjadi lagi penyimpangan-penyimpangan peruntukan lahan yang dapat menyebabkan kesemrawutan Jakarta, terkhusus Kemang yang merupakan area hunian elite, namun kini menjadi area komersil.

Kamis, 27 Januari 2011

Analisis Bangunan Publik "MARGO CITY" Dengan Menggunakan Metode Kritik Evokatif

Metode Evokatif merupakan cabang dari kritik arsitektur secara interperatif dimana kritik dengan metode evokatif memiliki ciri sebagai berikut:
Evoke : menimbulkan, membangkitkan
• Ungkapan sebagai pengganti cara kita mencintai bangunan
• Menggugah pemahaman intelektual kita atas makna yang dikandung bangunan
• Membangkitkan emosi rasa kita dalam memperlakukan bangunan
• Kritik evokatif tidak perlu menyajikan argumentasi rasional dalam menilai bangunan
• Kritik evokatif tidak dilihat dalam konteks benar atau salah tetapi makna yang terungkap dan penglaman ruang yang dirasakan.
• Mendorong orang lain untuk turut mebangkitkan emosi yang serupa sebagaimana yang dirasakan kritikus.

Objek yang dianalisis:
MARGO CITY



Jl. Margonda Raya yang diramaikan oleh beragam pusat perbelanjaan merupakan kawasan strategis yang berada di lingkungan pemukiman dan pendidikan. Margo City merupakan Pusat Belanja dan Hiburan yang terletak di Jl. Margonda Raya, dengan gedung berdesain dinamis dan modern.
Margo City dibangun dengan luas bangunan 67.000 M2 berdiri di atas tanah seluas 7.5 Ha. Bangunan 4 lantai yang terdiri dari Lower Ground, Ground Floor, 1st Floor dan 2nd Floor ini dilengkapi dengan 4 void dan Escalator, Travelator dan Elevator bagi pengunjung.

A. LANDSCAPE
Pusat perbelanjaan ini berfokus pada pengolahan landscape. Bangunan ini terbangun dengan lahan yang digunakan sebagian besar untuk pengolahan landscape. Pada landscape dari mall ini dibuat sedemikian rupa dengan ditanmi tanaman-tanan tropis. Bentuknya yang menarik membuat pengunjung pusat perbelanjaan ini menjadi sangat terkesan dengan bentuk olahan landscape.
Selain landscape, terdapat pula pusat olahraga yang terdiri dari lapangan futsal, basket, dan area untuk wall climbing maupun skateboard. Management building sangat cermat dalam menyikapi hal ini karena Kota Depok merupakan kota yang dimayoritas oleh mahasiswa dan pelajar.

B. FASAD




Fasade bangunan ini juga teridri dari material kaca, besi dan beton. Yng menjadi focal point pada bangunan ini adalah land mark sebuah crown berbentuk rangkaian besi tersusun menjulang di atas atrium dan skylight, setinggi 40 m. Land mark inilah yang membuat Margo City sangat berbeda dengan pusat perbelanjaan yang ada di Kota Depok. Selain itu, land mark ini menjadikan Margo City sebagai ikon baru kota Depok.

C. LOKASI
Lokasi Mall ini terletak di jantung kota Depok. Berada di jalan Margonda Raya yang merupakan jalan utama di Kota Depok. Mall ini juga berhadapan dengan Depok Town Square, salah satu mall terbesar di Depok. Selain itu, lokasinya yang berdekatan dengan beberapa Universitas seperti Universitas Indonesia, Universita Gunadarma dan Bina Sarana Informatika, serta sekolah seperti Sekolah Pribadi, dll, sehingga banyak pengunjung yang merupakan mahasiswa atau pelajar. Namun pada akhir pekan dan hari libur, pusat perbelanjaan ini biasanya didatangi oleh pengunjung yang mayoritas adalah keluarga.



D. INTERIOR
Margo City yang mengedepankan pelayanan terbaik sebagai acuan dalam mengelola manajemen gedung tersebut. Leased Mall yang mengadopsi konsep Single Coridor ini, berawal dari konsep comprehensive yang menerangkan arti kata "city" yaitu kota yang didalamnya terdapat berbagai fasilitas. Fasilitas tersebut dikembangkan dalam bentuk clustered dan terwujud dalam 3 zona yang meliputi: Margo Zone, City Zone dan O-Zone dengan rincian:
1. Margo Zone: area Food & Beverage dengan rangkaian café, restoran, patisserie and bakery serta Food Court dengan desain unik ber kapasitas 500 tempat duduk.
2. City Zone: merupakan area retail fashion dan life style yang menampilkan beragam fasilitas dan brand dari dalam maupun luar negri.
3. O-Zone: Area outdoor dengan kelengkapan fasilitas olahraga dan out door seperti : futsal, basket, jogging track, cycling track, skateboard area, bungee trampoline serta beragam fasilitas untuk mahasiswa (students center, DVD/ VCD rental, studio recording, café, dll).



Bentuk interior dari Margo City ini dapat dilihat dengan bentuk bukaan pada tengah gedung yang merupakan atrium utama. Seluruh koridor akan bruara pada bukaan ini. Pada bukaan ini sangat menekankan kenyamanan pengunjung. Oleh karena itu pada bukaan ini ni sering dijadikan sebagai area utama pada event-ebvenet tertentu. Zoning pad mall ini pn dibuat teratur, dimana area untuk perbelenjaan, untuk hiburan dan untuk area restoran/makan dibuat terpisah sesuai dengan masig-masing zona. Hal ini baik diterapkan pada mall-mall lainnya agar tidak menyulitkan pengunjung mall. Selain itu pula bentuk koridor yang ada pada mall ini terlihat sangat teratur dan terawatt sehingga kenyamanan pengunjung pun terasa. Space yang digunakan sebagai area sirkulasi pengunjung sangat diprioritaskan. Kebersihan interior pada mall ini menjadi nilai tambah dikarenakan kebersihan menjadi hal yang diutamakan pada pusat perbelanjaan ini.


KESIMPULAN:
Margo City merupakan sebuah mall di pusat kota Depok dengan land mark sebuah crown berbentuk rangkaian besi tersusun menjulang di atas atrium dan skylight, setinggi 40 m. Selain itu pula pola landscapenya yang dibuat semenarik mungkin, dan ditambahkan dengan berbagai zona-zona yang dibuat untuk kenyamanan pengunjung. Bentuk koridor yang rapi dan teratur memberikan kesan yang baik dimata pengunjung. Oleh karena itu Margo City kini dianggap sebagai ikon baru Kota Depok.

Analisis Bangunan Publik "DEPOK TOWN SQUARE" Dengan Menggunakan Metode Kritik Advokatif

Metode Advokatif merupakan cabang dari kritik arsitektur secara interperatif dimana kritik dengan metode avokatif memiliki ciri sebagai berikut:
• Kritik ini tidak diposisikan sebagai bentuk penghakiman (judgement) sebagaimana yang terjadi pada Normatif Criticism.
• Bentuk kritiknya lebih kepada sekadar anjuran yang mencoba bekerja dengan penjelasan lebih terperinci yang kadangkala juga banyak hal yang terlupakan
• Isi kritik tidak mengarahkan pada upaya yang memandang rendah orang lain
• Kritikus mencoba menyajikan satu arah topik yang dipandang perlu untuk kita perhatikan secara bersama tentang bangunan
• Kritikus membantu kita untuk melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh sang arsitek melalui bangunannya dan berusaha menemukan pesona dimana kita telah mengira ia hanyalah sebuah objek yang menjemukan
• Dalam hukum advocatory Criticism, kritiknya tercurah terutama pada usaha mengangkat apresiasi pengamat

Objek yang dianalisis:
DEPOK TOWN SQUARE (DETOS)



Depok Town Square (atau disingkat Detos) adalah sebuah pusat perbelanjaan di Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia. Mal ini mulai beroperasi tahun 2005, berlokasi di jalan utama Depok yaitu jalan Margonda Raya. Depok Town Square berada di bawah bendera Grup Lippo dan dibangun oleh PT Lippo Karawaci Tbk.
Detos berdiri di area seluas 160.000 m² dengan total areal lahan seluas 24.000 m² menawarkan lebih dari 2.300 unit kios yang terdiri dari exterior shop, speciality shop, open shop, kafe/restoran dan food court. Pusat perbelanjaan itu memiliki area parkir yang mampu menampung sekitar 1.300 mobil.
Pusat perbelanjaan ini menawarkan status kepemilikan secara strata title bagi para tenant.
Tenant besar yang saat ini telah hadir dalam pusat perbelanjaan ini diantaranya Hypermart, Matahari Department Store, Timezone, AW Restaurant, California Fried Chicken, KFC,Popeye, Hoka Hoka Bento, Bucheri dan Cineplex 21.

A. FASAD
DETOS terlihat bermain dengn warna-warna cerah pada bagian fasade-nya dan berani mengolah fasad dengan bentuk yang dinamis. Penggunan elemen kaca dan garis-garis simetris turut mendukung kesan dinamis yang berusaha diprlihatkan oleh mall ini. Hanya saja, letak nama mall ini “Depok Town Square” tidak jelas terlihat seperti halnya nama supermarket dan department store yang berada di dalamny seperti Hypermart dan Matahari.



B. LOKASI
Lokasi DETOS sendiri sangat strategis berada di jantung kota Depok yaitu Jalan Raya Margonda dan berhadapan dengan Margo City, salah satu mall terbesar di Depok. Selain itu, Depok sebagai kota Pelajar, memiliki beberapa Universitas dan Sekolah disekitar lokasi mall ini, sehingga banya pengunjung yang merupakan mahasiswa atau pelajar. Hal in berkaitan dengan lokasinya yang berdekatan dengan beberapa Universitas seperti Universitas Indonesia, Universita Gunadarma dan Bina Sarana Informatika, serta sekolah seperti Sekolah Pribadi, dll. Namun pada akhir pekan dan hari libur, pusat perbelanjaan ini biasanya didatangi oleh pengunjung yang mayoritas adalah keluarga.



C. INTERIOR
Secara Interior dari DETOS antara lain sebagai berikut:
- Lantai basement: Pada lantai basement terdapat supermarket “Hypermart” dan beberapa kios untuk menjual pakaian, aksesoris dan tempat perawatan seperti fish spa dll. Selain itu pula terdapat area makan seperti foodcourt dan restoran serta coffee shop, hanya saja keberadaan food court tidak dirawat dengan baik dan tidak dipergunakan.
- Lantai dasar: Lantai ini terdiri dari beberapa kios untuk menjual pakaian serta area tempat makan cepat saji dan ATM Center. Selain itu pula pada lantai dasar terdapar department store yaitu Matahari. Pada area lobby terlihat sangat tidk terawatt dari keramiknya hingga penataan counter-counter di tengah lobby. Selain itu jika dilaksanakan bazaar, terlihat bentuk stand dari bazaar-bazaar tersebut sangat berantakan. Podium/stage yang berada di tengah diantara escalator pun sangat tidak terawatt oleh pihak management building.
- Lantai 1: Pada lantai ini umumnya terdiri dari kio-kios yang menjual pakaian, serta lantai 1 dari Matahari Department Store. Selain itu pula terdapat beberapa restoran dan sebuah toko buku. Sayangnya banyak sekali kios yang tidak dibuka atau sudah dijual sehingga pada bagian belakang sangat sepi karena tidak ada kios yang buka. Pada koridornya berjejer penjua-penjual aksesoris yang menggunakan space untuk sirkulasi manusia. Hal ini sangat mengganggu karena mempersempit sirkulasi bagi pengunjung.
- Lantai 2: Pada lantai 2 ini, hampir keseluruhan terisi oleh kios-kios, namun seperti halnya dengan lantai 1, banyak kios pada bagian belakang yang tidak terpakai sehingga pada bagian belakang lantai ini sangat sepi. Selain itu terdapat pula beberapa salon serta tepat perawatan tubuh.
- Lantai 3: Pada lantai ini terdiri dari bioskop, pusat pemainan, foodcourt, pusat ponsel dan computer. Penataan stand untuk computer dan ponsel sudah terlihat teratur hanya saja masih kotor. Kondisi foodcourt yang ramai membuat foodcourt terllihat kotor jika tidak segara dibersihkan. Pada area ini beberapa lantai keramik terlihat pecah dan hal ini sangat mengganggu sirkulasi pengunjung dan membuat kotor.


KESIMPULAN:
Depok Town Square (DETOS) merupakan pusat perbelanjaan yang berada di tengah kota Depok. Selain itu juga Depok Town Square merupakan mall yang sering dikunjungi oleh kalangan mahasiswa dan pelajar, keberadaan interior pada pusat perbelanjaan ini harus lebih diperhatikan dan dirawat. Hal ini untuk kenyamanan pengunjung Deto sendiri. Selain itu pula pedagang yang berada di area koridor yang merupakan space sirkulasi manusia lebih baik dipindahkan ke tempat yang masih kosong agar tidak mempersempit sirkulasi manusia. Area lobby yang merupakan area utama pada mall pun lebih dirawat dan dibuat semenarik mungkin untuk menarik kesan pengunjung Detos.

Rabu, 24 November 2010

Analisis Bangunan Publik Dengan Menggunakan Metode Kritik Tipikal

Definisi Metode Tipikal :
Suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik.

Objek yang dianalisis:
OLD HOUSE Coffee – Margo City, Jl. Margonda Raya – Depok



Objek pembanding sejenis:
BATAVIA Cafe – Taman Fatahillah Jl. Pintu Besar Utara Jakarta Kota - Jakarta




OLD HOUSE COFFEE: Pada jaman dulu, trademark-nya Pondok Cina yaitu Rumah Tua Pondok Cina. Sepintas rumah tersebut tampak sederhana. Arsitekturnya bergaya Indies. Namun nilai sejarah yang dimilikinya sangat berharga. Sebab, Rumah Tua Pondok Cina sangat identik dengan sejarah panjang keberadaan etnis Tionghoa di Depok. Situs tersebut merupakan saksi sejarah bagaimana etnis ini berusaha tetap eksis di wilayah Depok sekitar abad ke-18. Akhirnya tanah tersebut dibeli seorang warga Tionghoa bermarga Tan. Konon keluarga marga Tan inilah yang kemudian membangun Rumah Tua Pondok Cina serta menyediakan lahan pekuburan bagi keluarga dan penduduk sekitar. Kini, Rumah Tua Pondok Cina telah masuk dalam bagian Margo City, sebuah mal besar yang berdiri di Jalan Margonda Raya. Meski arsitekturnya tak berubah, namun Rumah Tua Pondok Cina telah berubah menjadi sebuah café.

BATAVIA CAFE: Bangunannya didirikan antara tahun 1805 dan 1850; merupakan bangunan kedua di daerah Taman Fatahillah ini setelah Town Hall (sekarang Museum Sejarah Jakarta). Pernah berfungsi sebagai rumah tinggal, gudang, kantor, art gallery dan café (sekarang).


- STRUKTUR BANGUNAN
OLD HOUSE COFFEE
Fasade : Kaca dan Beton
Struktur : Beton
Lantai : Keramik

BATAVIA CAFE
Fasade : Kaca, Kayu, Beton
Struktur : Beton
Lantai : Keramik dan Kayu


- SISTEM UTILITAS
OLD HOUSE COFFEE
Sistem Utilitas terlihat baik dan terawat. AC, air, listrik, berjalan dengan lancar dan kebersihannya sangat terawat baik di dalam cafe maupun di luar cafe.

BATAVIA CAFE
Sistem Utilitas terlihat sangat terawat, hanya saja pada bagian luar, tampak tumpukan mesin AC sangat menganggu fasade dari face ini sendiri.


- INTERIOR BANGUNAN
OLD HOUSE COFFE
Pada bagian dalamnya, terlihat bagian dapur yang dibuat terbuka, dengan pelayanan yang baik. Suasana pada bagian dalam cafe terkesan nyaman degan adanya beberapa sofa untuk menambah kesan cozy pada cafe ini. Jika kita masuk lebih dalam makan terdapat ruangan dengan furniture meja dan kursi jaman dulu dengan material kayu. Selain itu pula terdapat foto-foto daerah-daerah di Jakarta pada jaman dulu yang ditata dengan baik di sepanjang dinding cafe.





BATAVIA CAFE:
Terlihat dengan jelas sekali bahwa cafe ini masih mempertahankan kesan kolonial dan tempoe doeloe-nya. Furniture yang digunakan, seperti meja, kursi, dan bentuk bar masih dipertahankan dengan kesan tempoe doeloe. Selain itu juga, bentuk sofa-sofa yang ada juga dipertankan kesan sofa pada jaman dulu. Lampu dan berbagai fasilitas pendukung juga mengesankan kesan eropa pada jaman dulu. Sama halnya dengan Old House Coffee, pada dinding cafe ini juga terdapat banyak foto-foto dari bintang film, politicians, historic figures, dll.










- FUNGSI BANGUNAN
OLD HOUSE COFEE:
Pada jaman dulu Old House Coffee adalah sebuah tempat tinggal yang dimiliki oleh seorang saudagar berdarah Tionghoa, dan gedung ini menjadi trademark daerah tersebut (Pondok Cina). Semakin berkembangnya jaman, kini area bangunan itu telah menjadi milik pengembang kawasan yang telah merubahnya menjadi area pusat perbelanjaan. Untuk mempertahankan sejarah, bangunan ini dipertahankan dan dialihfungsikan menjadi cafe hingga saat ini.

BATAVIA CAFE:
Bangunan ini dibangun pada jaman penjajahan Belanda. Oleh karena itu letaknya di kawasan Batavia, yang pada saat itu merupakan pusat pemerintaan Belanda. Bangunan ini awalnya berfungsi sebagai rumah tinggal, namun seiring dengan perkembangannya bangunan ini beralih fungsi menjadi gudang, hingga kantor, art gallery dan pada akhirnya sampai saat ini berfungsi sebagai café.


- BENTUK BANGUNAN
OLD HOUSE COFFEE:
Bangunan ini bergaya indies dengan penggunaan beton kolom yang dominan. Bentuknya terkesan sederhana, karena pada awalnya digunakan untuk tempat tinggal.Dengan bentuk jendela yang besar, dan permainan kolom beton, membuat rumah ini memiliki ciri tersendiri. Bentuknya pun dipertahankan hingga saat ini tanpa merubah fasadenya.



BATAVIA CAFE:
Pada bagian depan exterior café ini terlihat antik, dengan arsitektur khas peninggalan jaman kolonial Belanda. Kanopi hijau dengan jalusi kayu dilantai 2 membuat café ini terlihat indah. Permainan ukiran kayu pada jalusi jendela cafe ini mempercantik bentuk fasade gedung, demikian pula dengan kanopi hijau yang menjadi ciri khasnya. Pintudan jendela kaca yang masih terkesan tempoe doeloe pun menjadi ciri dari cafe itu sendiri.




- KESIMPULAN:
Dari hasil analisis dengan kritik metode tipikal maka terlihat dengan jelas bahwa Old House Coffee ini sendiri memiliki kriteria yang cukup untuk menjadi bangunan publik dengan inspirasi dari Batavia Cafe itu sendiri. Kesan “tempoe doeloe” sudah bisa dirasakan oleh pengunjung dari melihat fasade bangunan Old House Coffee hingga masuk ke dalamnya, hanya saja terdapat beberapa furniture pada interior cafe ini yang harus diperhatikan agar kesan “jaman dulu” yang ingin diperlihatkan kepada pengunjung cafe menjadi semakin nyata. Nilai-nilai perancangan exterior dan interior dari Batavia Cafe dapat menjadi patokan untuk membuat sebuah cafe yang unik dan nyaman, meksipun berada pada bangunan tua dan memiliki furniture pada jaman dulu, namun hal tersebut dapat membuat pengunjung semakin tertarik untuk masuk ke dalamnya, dan menjadi terlanjur betah untuk keluar dari dalam bangunan cafe tersebut.

Sabtu, 15 Mei 2010

KESESAKAN dan KEPADATAN

1. Apakah Kesesakan Itu?
Kesesakan memiliki hubungan dengan kepadatan (density), yaitu banyaknya jumlah manusia dalam suatu batas ruang tertentu . Makin banyak jumlah manusia berbanding luasnya ruangan, makin padatlah keadaannya.


2. Beberapa Pengertian
a. Hubungan antara Kesesakan dan Kepadatan
Kepadatan adalah ukuran jumlah orang per unit area. Dapat diterapkan untuk pengukuran dimana pun, tidak terikat. Kepadatan memiliki ciri objektif, tetapi tidak terlepas dari skala geografis. Sementara itu, kesesakkan mengacu pada pengalaman seseorang terhadap jumlah orang di sekitarnya. Berbeda dengan kepadatan yang objektif, kesesakan bukan merupakan rasio fisik, melainkan perasaan subjektif terhadap lingkungan sekitarnya.

Secara teoritis, kesesakan dan kepadatan dibedakan sebagai berikut. Stolkols (1972) menyatakan bahwa kepadatan (density) adalah kendala keruangan (spatial constraint). Sementara itu, kesesakkan (crowding) adalah respon subjektif terhadap ruang yang sesak (tight space).

Kepadatan memang merupakan syarat yang diperlukan untuk timbulnya persepsi kesesakan, tetapi bukanlah merupakn syarat yang mutlak harus ada. Misalnya pada pasar malam, atau pertunjukan bioskop, di lapangan atau tempat-tempat keramaian itu. Walaupun kepadatannya tinggi, orang tidak merasa sesak.
Kesesakan baru terjadi jika ada gangguan atau hambatan tertentu dalam interaksi sosial atau dalam usaha pencapaian suatu tujuan.

b. Kepadatan Sosial dan Kepadatan Spasial
Penelitian-penilitian membuktikan bahwa karena sifatnya yang subjektif, jenis kepadatan atau rasio jumlah orang per unit area dapat dibedakan dalam dua cara, yaitu kepadatan sosial dan kepadatan spasial. Loo (1973) dan Saegert (1974) mengemukakan bahwa pada manusia terdapat kepadatan sosial di samping kepadatan ruang/spasial.
Di sebuah ruangan pertemuan yang padat dengan pengunjung misalnya, kepadatan itu bisa disebabkan oleh persepsi bahwa ruangannya terlalu sempit untuk jumlah undangan (kepadatan ruang), tetapi bisa juga karena persepsi bahwa undangannya terlalu banyak untuk ruangan ini (kepadatan sosial).

c. Kepadatan Dalam dan Kepadatan Luar
Kepadatan dalam adalah rasio jumlah individu di dalam bangunan, sedangkan kepadatan luar adalah rasio individu dalam ruang di luar bangunan. Holahan mengklasifikasikan kepadatan sebagai berikut.
-Kepadatan pedesaan, yaitu kepadatan di dalam rumah tinggi, tetapi kepadatan di luar rendah.
-Kepadatan di pinggiran kota, yaitu kepadatan di dalam ataupun di luat rumah rendah.
-Kepadatan permukiman mewah, di kota besar, yaitu kepadatan di dalam rendah, di luar rumah tinggi.

d. Kepadatan VS Kedekatan
Kepadatan dalam dan luar dilihat para ahli sebagai usaha awal untuk pengukuran faktor lain, yaitu berapa banyak orang yang ada dan seberapa dekat keberadaan mereka.


3. Pengaruh pada Kesesakan
Faktor sosial yang mempengaruhi rasa kesesakan adalah kualitas relasi di antara orang-orang yang harus berbagi ruang tersebut. Kesesakan akan semakin terasa apabila kerumunan orang yang berada di sekitar kita tidak kita kenal. Karena itu, kesesakan yang dirasakan terkait dengan harapan seseorang atau relasi terhadap orang lain di sekitarnya.
Kesesakan juga dipengaruhi oleh jumlah dan tipe informasi yang diperoleh seseorang sebelum atau selama mengalami kepadatan tinggi. Mereka yang tidak menerima informasi sama sekali atau mendapat pesan mengenai reaksi emosional.
Tatanan ruang di dalam bangunan atau pun di luar bangunan juga mempengaruhi kesesakan. Sebuah asrama yang memiliki lorong panjang, menimbulkan kesesakan dan stres bagi penghuni dibandingkan lorong yang pendek. Tinggal di hunian bertingkat banyak menimbulkan kesesakan yang lebih besar dibandingkan dengan di hunian bertingkat rendah. Penghuni yang tinggal di lantai yang lebih tinggi tidak terlalu merasa sesak dibandingkan dengan yang tinggal di lantai bawah (Schiffenbauer, 1979). Hal ini mungkin terjadi karena lebih sedikit tamu yang menuju ke aras atau karena pemandangan dari jendela lantai atas lebih luas dan lebih terang.


4. Dampak Kepadatan pada Manusia
Pengaruh personal, sosial dan fisik dapat menyebabkan seseorang merasa sesak. Kepadatan tinggi tidak hanya menyebabkan seseorang merasa sesak, tetapi juaga menyebabkan dampak sebagai berikut.
a. Dampak penyakit dan patologi sosial atau penyakit kejiwaan. Meskipun tidak selalu kepadatan tinggi berarti meningkatnya patologi sosial.
b. Dampak pada tingkah laku sosial, yaitu agresi, menarik diri dari lingkungan sosial, cenderung melihat sisi negatif orang lain.
c. Dampak pada hasil usaha dan suasana hati. Hasil usaha yang menurun dan suasana hati yang cenderung murung.
Konsekuensi lain dari kepadatan tinggi adalah persepsi bahwa kontrol seseorang menjadi rendah karena kita harus berbagi sumber dan mengambil keputusan bersama dengan lebih banyak orang jika kepadatan meningkat.



(Sumber: ARSITEKTUR dan PERILAKU MANUSIA, karya Joyce Marcella Laurens)

Sabtu, 10 April 2010

PRIVASI MANUSIA

1. APAKAH PRIVASI ITU?
Privasi adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya. Dalam ilmu psikoanalis, privasi berarti dorongan untuk melindungi ego seseorang dari gangguan yang tidak dikehendakinya.
Privasi merupakan suatu proses yang sangat penting dalam hidup manusia. Untuk mendapatkan privasi, seseorang harus terampil, membuat keseimbangan atara keinginannya dengan keinginan orang lain dan lingkungan fisik di sekitarnya. Amos (1977) mengemukakan bahwa privasi adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mengendalikan interaksi mereka dengan orang lain, baik secara visual audial, maupun olfaktori untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Iriwin Altman (1975), seorang tokoh psikologi lingkungan, dalam gagasannya mengenai privasi mendefinisikan privasi sebagai kontrol selektif dari akses pada diri sendiri maupun kelompok.

2. JENIS PRIVASI
Holahan (1982) pernah membuat alat untuk mengukur kadar dan mengetahui jenis privasi dan ia mendapatkan bahwa ada enam jenis privasi, yang terbagi dalam dua golongan.

a. Golongan pertama adalah keinginan untuk tidak diganggu, secara fisik. Golongan ini terwujud pada tingkah laku menarik diri.
- Keinginan menyendiri (solitude). Privasi dapat diperoleh karena dibatasi oleh elemen tertentu sehingga bebas melakukan apa saja dan bebas dari perhatian orang lain.
- Keinginan menjauh (seclusion) dari pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas
- Keinginan intim dengan orang-orang (intimacy). Misalnya, dengan keluarga atau orang tertentu saja seperti kekasih, tetapi jauh dari semua orang lainnya. Privasi diperoleh tidak pada lingkunngannya, tetapi dibangun di tengah-tengah kegiatan.

b. Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang terwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang perlu (control of information) yaitu:
- Keinginan merahasiakan diri sendiri (anonymity). Privasi yang diperoleh ketika berada di antara sesama di daerah orang lain sehingga seseorang bebas berperilaku berbeda dengan yang biasa dilakukannya, tetapi tidak ingin diketahui identitasnya. Misalnya, dandanan para turis, dll.
- Keinginan untuk tidak mengungakapkan diri terlalu banyak kepada orang lain (reserve). Privasi ketika seseorang dapat mengontrol sepenuhnya kondisi bahwa ia tidak dapat dianggu dan ia yakin merasa ama karena memiliki barier psikologis terhadap adanya gangguan. Orang yang berada disekitarnya menghargai dirinya yang ingin membatasi komunikasi tentang dirinya dengan orang lain.
- Keinginan untuk tidak terlibat dengan para tetangga (not neighboring). Tidak suka kehidupan bertetangga.

3. TUJUAN PRIVASI
Privasi adalah kehendak untuk mengontrol akses fisik ataupun informasi terhadap diri sendiri dari pihak orang lain. Sementara itu, ruang personal adalah perwujudan privasi itu dalam bentuk ruang.
Dengan demikian, disimpulkan privasi memiliki tujuan, sebagai berikut:
a. Memberikan perasaan berdiri sendiri, mengembangkan identitas pribadi. Privasi merupakan bagian penting dari ego seseorang atau identitas diri. Solitude dan intimacy khususnya dapat digunakan seseorang untuk mengevaluasi diri, merenung bagaimana hidupnya telah berjalan, bagaimana hubungan dengan sesamanya, dan apa yang harus dilakukannya.
b. Memberi kesempatan untuk melepaskan emosi. Dalam kesendirian seseorang bisa berteriak keras-keras, menangis, memandang wajahnya sendiri di cermin, dan berbicara dengan dirinya sendiri.
c. Membantu mengevaluasi diri sendiri, menilai diri sendiri. Kurangnya kontrol atas lingkungan fisik ataupun sosial menimbulkan rasa kurangnya otonomi atau independensi seseorang. Lingkungan fisik dapat berperan sebagai mediator antara privasi dan kontrol.
d. Membatasi dan melindungi diri sendiri dari komunikasi dengan orang lain. Salah satu alasan seseorang mencari privasi adalah membatasi dan melindungi percakapan yang dibuatnya. Banyak hal yang ingin disampaikan tertahan penyampaiannya karena tidak ada tempat yang dianggap cukup privat untuk melindungi percakapn tersebut.


(Sumber: ARSITEKTUR dan PERILAKU MANUSIA, karya Joyce Marcella Laurens)

.